Saat, keinginan berlayar tak tertahan
Kubawa hati mengarungi samudera nan terbungkus awan
Indah, seindah rasa menyelimuti harapan
Tentang asa, cita-cita dan masa depan
Kupenuhi perahu dengan segumpal CINTA
Kugantungi secercah cahaya sebagai penyerta
Kuhiasi dinding-dindingya dengan rindu yang sejuta
Kukayuh sesekali dengan cemburu dan air mata
Dan….
Ketika perahu terlalu sarat akan beban
Ketika terbentuk hasrat memiliki perahu tambahan
Ketika aku tak sanggup mengayuh sendirian
Aku tergulung ombak demikian kencang
Terguncang keras menerpa bebatuan karang
Meninggalkan cerita tentang harapan, terbuang
Mengikis gumpalan CINTA yang terlanjur memberi terang
Aku tenggelam
Perahuku karam
Gemerlap bintang semakin terang ,,
Tak sedetikpun mampu terlukis,
meskipun dalam nyanyian penghujung malam,,
Bulan tersenyum dalam manies yang diam, namun tak juga aku mampu
merangkainya dalam cerita…
Meskipun dalam cerita pendek penuh kiasan tak nyata….
Kini Ku terus mencoba…..
Mencoba menulis semua keindahan itu….
Meski ku tau,Ku tak mampu membuatnya sempurna….
Meski Ku tau sesempurna bahasaku pun tak mampu menandingi betapa indah
dan tiada cacatnya…..
Namun sungguh…
Ingin ku perlihatkan semua keindahan itu dalam tiap tutur kata
sederhanaku
Dalam tiap kemampuanku merangkainya menjadi satu…..
Bukan untukQ…
Bukan untuknya…
Bukan untuk siapa…
Tapi…untukmu…
Karna ini kado manies di hari indah
Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam
kata
Kusimpan kasih-Mu dalam dada
Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu
Segera saja bagai duri bakarlah aku.
Meskipun aku tenang, diam bagai ikan
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam
lautan
Kau yang telah menutup rapat dalam bibirku
Tariklah misaiku dalam dekat-Mu.
Apakah maksud-Mu?
Mana aku tahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam
iringan ini selalu.
Kukunyah lagi menahan kepedihan
Mengenangmu bagai unta memamah biak
makanan
Dan bagai unta yang geram mulutku
berbusa.
Meskipun aku tinggal bersembunyi dan tidak
bicara
Di hadirat kasih aku jelas dan nyata.
Aku bagai benih di bawah tanah
Aku menanti tiada musim semi.
Hingga tanpa napasku sendiri
Aku dapat bernapas wangi
Dan tanpa kepalaku sendiri
Aku dapat membelai kepala lagi.
[membujuk yang tercinta)
cinta terus ae .... eleng mbak kate unas ...
BalasHapusheheheh ...:D
"enggeh mbak.....
BalasHapus